Patofisiologi dan Diagnosis Obesitas
Alwi Shahab
Bagian Penyakit Dalam FK Unsri/ RSUP dr.Mohd.Hoesin
P a l e m b a n g

Abstrak
Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran kalori sehingga menyebabkan kelebihan akumulasi lemak didalam tubuh. Obesitas merupakan masalah global, dimana patofisiologinya bersifat multifaktorial melibatkan faktor lingkungan, metabolik dan genetik. Interaksi faktor2 ini satu sama lain berperan dalam mengatur berat badan, sedangkan ketidakseimbangan faktor-faktor ini dapat menyebabkan penambahan berat badan. Perkembangan kemajuan riset kedokteran dalam studi genetik beberapa dekade terakhir, menemukan berbagai mutasi kromosom tertentu yang menyandi obesitas. Sejauh ini lebih dari 200 gen pada tikus dan lebih dari 100 gen pada manusia yang telah diidentifikasi, menghasilkan fenotip yang mempengaruhi regulasi berat badan. Selain itu, cakrawala pengetahuan tentang obesitas masih belum banyak dieksplorasi. Masih banyak rahasia yang belum terbongkar dalam pemahaman tentang faktor penyebab dan penatalaksanaan obesitas.
Pendahuluan
Obesitas merupakan kelainan metabolisme yang cenderung semakin meningkat prevalensinya dinegara-negara maju maupun negara-negara berkembang sehingga menimbulkan berbagai komorbitas. Berbagai faktor terlibat dalam proses terjadinya obesitas, menyangkut faktor sosial, perilaku, lingkungan dan genetik. Obesitas merupakan permasalahan kesehatan global. Sejak awal abad ke 20, prevalensi obesitas meningkat perlahan, tetapi mulai meningkat lebih cepat pada tahun 1980. Prevalensi obesitas cenderung meningkat pada kelompok anak-anak dan dewasa muda disertai dengan peningkatan prevalensi komplikasi berupa penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2, gangguan fungsi ginjal, dan penurunan kualitas hidup. Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme patogenesis molekuler serta peranan faktor lingkungan dan genetik diharapkan dapat memperbaiki kualitas penatalaksanaan obesitas. Pengaturan nafsu makan terjadi didalam kompleks sirkuit syaraf hipothalamus dimana nukleus arkuatus, leptin dan ghrelin memegang peranan penting.

Prevalensi obesitas
Prevalensi obesitas diseluruh dunia meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir. Terdapat banyak bukti bahwa prevalensi BB berlebih dan obesitas meningkat diwilayah dimana terjadi perubahan-perubahan sosial ekonomi yang cepat. Di Amerika Serikat, sekitar sepertiga penduduk usia 20 sampai 74 tahun tergolong dalam kelompok obes. Berdasarkan survei populasi nasional Amerika yang dilakukan sejak tahun 1960, prevalensi obesitas (IMT ( 30 kg/m2) saat ini sudah lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 13% menjadi 32%. Prevalensi obesitas di India saat ini sebesar 20% pada populasi dewasa dan 10% pada populasi anak-anak. Di Provinsi Punjab India, prevalensi BB berlebih dan obesitas lebih tinggi pada wanita perkotaan dibandingkan wanita pedesaan. Prevalensi obesitas juga mengalami peningkatan pada kelompok anak-anak dan remaja. Suatu studi melaporkan bahwa prevalensi BB berlebih (IMT ≥ 25), tinggi diantara anak-anak diperkotaan India Selatan. Prevalensi BB lebih diantara anak-anak Bengali di Kalkuta lebih tinggi daripada anak-anak di negara Asia lainnya. Penyakit-penyakit yang menyertai obesitas pada orang dewasa seperti DM tipe 2, hipertensi, hiperlipidemi, penyakit kantong empedu, Non Alcoholic Steatohepatitis, sleep apnea dan komplikasi-komplikasi ortopedik juga mulai meningkat prevalensinya pada anak-anak dan remaja.

Patofisiologi obesitas
Pengaturan jumlah energi yang kita ambil dari makanan melibatkan beberapa jaringan dan mekanisme yang menghubungkan otak dengan usus. Proses ini merupakan kunci dari pengaturan BB dan modifikasi perilaku makan jangka panjang. Obesitas ditandai dengan peningkatan jaringan adiposa subkutan. Konsekuensi metaboliknya seperti resistensi insulin terutama terjadi akibat deposit lemak pada tempat2 tertentu seperti omentum, hati dan otot-otot rangka. Akhir-akhir ini telah pula ditemukan sejenis virus yang menyertai terjadinya obesitas. Human adenovirus Ad-36 menyebabkan peningkatan diferensiasi dan akumulasi lipid pada manusia. Pre adiposit 3T3-L1 dapat menerangkan efek adipogenik dari Ad-36. Regulasi BB dapat terjadi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Obesitas terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan dalam asupan dan pengeluaran energi. Sejumlah informasi telah tersedia tentang gen, peptida, neurotransmiter dan reseptor di hipothalamus serta area disekitarnya yang mengatur nafsu makan dan berat badan.

Neuropeptida utama yang meningkatkan nafsu makan adalah neuropeptida Y. Namun masih terdapat berbagai neuropeptida lain yang dapat meningkatkan nafsu makan, antara lain :
– Orexin A dan B
– Agouti related peptides (AgRP)
– Melanin concentrating hormones (MCH)
Sebaliknya, neuropeptida yang dapat menurunkan nafsu makan antara lain adalah :
– Pro-opio melanocortin (POMC) yang bekerja pada reseptor MC4
– Cocaine and amphetamine related transcript (CART)
– Corticotropin releasing hormone (CRH)
– Prolactin releasing peptide (PrRP)
– -melanocyte stimulating hormone (-MSH)
– 5- hydroxy triptamine (5-HT)
– Serotonin
– Leptin Receptor (LEPR)
Ada 4 hipotesis yang dapat menerangkan mekanisme yang terlibat dalam regulasi nafsu makan, yaitu :
I. Hipotesis lipostatik
Berdasarkan hipotesis ini, jaringan adiposa menghasilkan sinyal hormonal yang proporsional dengan jumlah lemak. Obesitas dikatakan sebagai kondisi inflamasi didalam tubuh. Saat ini telah ditemukan beberapa adipositokin yang terlibat dalam proses inflamasi, yaitu :
– IL-1 beta – IL-10 – TGF-beta
– IL-6 – IL-18
– IL-8 – TNF-alpha
Disamping itu respons fase akut berupa serum amyloid A dan PAI-1, ditemukan meningkat pada sindrom metabolik. Dari jaringan lemak putih (White Adipose Tissue) terjadi pelepasan leptin dan resistin yang menurunkan nafsu makan. Juga terjadi pelepasan adiponektin dan adipocytokine like TNF-a dan IL-6 yang meningkatkan nafsu makan. Jaringan lemak coklat (Brown Adipose Tissue) juga melepaskan PPAR- dan uncoupled protein-1 (UCP-1) yang bertanggung jawab dalam terjadinya peningkatan laju metabolisme dan penurunan BB.

2. Hipotesis peptida usus
Didalam lambung dilepaskan berbagai peptida yang berhubungan dengan asupan makan, antara lain GRP (Gastrin Related Peptide). Glukagon dan somatostatin dari pankreas menyebabkan penurunan nafsu makan dan berperan dalam mengendalikan berat badan.
Beberapa peptida lain seperti Cholecystokinin dan PYY yang dilepaskan dari usus dan kolon juga bertanggung jawab dalam pengaturan nafsu makan dan berat badan. Polipeptida ghrelin yang dilepaskan dari gaster memiliki efek Oreksigenik melalui jalur NPY/AGRP didalam nucleus arcuatus.
3. Hipotesis glukostatik
Hipotesis ini menyatakan bahwa penurunan kadar glukosa darah akan meningkatkan nafsu makan.
4. Hipotesis thermostatik
Hipotesis ini menyatakan bahwa penurunan suhu tubuh dibawah normal akan merangsang nafsu makan dan sebaliknya peningkatan suhu tubuh akan mengurangi nafsu makan.
Peranan faktor genetik dalam patofisiologi obesitas
Faktor genetik sangat berperan dalam peningkatan berat badan. Data dari berbagai studi genetik menunjukkan adanya beberapa alel yang menunjukkan predisposisi untuk menimbulkan obesitas. Disamping itu terdapat interaksi antara faktor genetik dengan kelebihan asupan makanan padat dan penurunan aktifitas fisik. Studi genome wide scans terhadap berbagai populasi yang berbeda telah mengidentifikasi berbagai lokus yang berhubungan dengan obesitas terletak pada kromosom 2,5,10,11 dan 20.
Studi genetik terbaru telah pula mengidentifikasi adanya mutasi gen yang mendasari obesitas. Terdapat sejumlah besar gen pada manusia yang diyakini mempengaruhi berat badan dan adipositas. Sebanyak 176 kasus obesitas pada manusia disebabkan karena mutasi gen tunggal pada 11 gen yang berbeda, 50 lokus berhubungan dengan sindrom Mendel yang berkaitan dengan obesitas.
Keseimbangan energi didalam tubuh

Pada laki-laki dan wanita dewasa, lemak didalam tubuh diperkirakan mengisi sebanyak 21% sampai 37% dari berat badan. Pada individu yang obes, lebih banyak kalori dikonsumsi daripada yang dikeluarkan. Jumlah jaringan lemak diatur secara ketat melalui sinyal neuronal dan humoral yang disampaikan ke otak. Kegagalan sel-sel lemak mengirimkan sinyal yang adekuat atau kegagalan otak merespons sinyal yang sesuai dapat menyebabkan obesitas.

Sistem regulasi keseimbangan energi yang efektif memerlukan beberapa mekanisme, antara lain :
a. Sensor terhadap simpanan energi didalam jaringan adiposa
b. Mekanisme penyampaian informasi ke pusat kendali di hipothalamus.
Kedua proses ini berintegrasi untuk menentukan besarnya asupan makanan dan energi yang dikeluarkan.
Percobaan genetik pada hewan dapat membantu kita dalam memahami proses regulasi metabolisme lemak. Tikus menjadi obes karena adanya mutasi dari paling sedikit 5 gen yang telah berhasil diidentifikasi :
– Ob gene (gen obesitas) yang mengkode leptin
– Db gene (gen diabetes)
– Agouti yellow gene
– Tubby gene
– Fat gene
Homozigositas dari bentuk mutan gen ob atau db dapat menimbulkan beberapa fenotip dimana tikus2 ini makan lebih banyak , pengeluaran energi lebih sedikit sehingga mereka menjadi sangat gemuk dan menderita berbagai kelainan metabolik meliputi hiperglikemi, hiperinsulinemi, hipotermi, menurunnya hormon tiroid dan fungsi reproduksi.
Leptin merupakan hormon peptida yang disekresi terutama oleh jaringan adiposa dan bertugas mengirimkan sinyal ke otak tentang jumlah simpanan lemak. Pada subjek normal kadar leptin didalam sirkulasi , proporsional dengan simpanan lemak dan Indeks Massa Tubuh. Sekresinya bersifat pulsatif dan berhubungan terbalik dengan kadar hidrokortison. Pembentukan leptin mengalami peningkatan akibat pengaruh glukokortikoid, estrogen serta insulin dan menurun karena pengaruh -adrenergic agonist. Dari tempat penyimpanan lemak, leptin mencapai otak dan menuju hipothalamus. Reseptor leptin ditemukan dalam beberapa bentuk. Reseptor leptin, OB-R, terbentuk dari gen db, dan termasuk dalam famili reseptor sitokin kelas I. Saat ini telah ditemukan 6 varian dari OB-R. Mutasi leptin dan reseptor leptin telah ditemukan pada beberapa pasien obes. Karena kebanyakan pasien obes memiliki kadar leptin dan gen OB-R yang normal, jadi obesitas nampaknya mempunyai penyebab multipel termasuk faktor2 lingkungan dan adanya hubungan alel dari berbagai gen yang berperan dalam pengaturan metabolisme energi.
Leptin bekerja pada neuron2 didalam nukleus arkuatus hipothalamus dan mengeluarkan sinyal untuk menurunkan produksi neuropeptida Y (NPY). Sebaliknya kekurangan makan akan meningkatkan produksi NPY oleh hipothalamus. NPY merangsang asupan makan dan menurunkan aliran simfatis dan melalui jalur ini akan mengurangi pengeluaran energi.

NPY juga merangsang simpanan dan sintesis lemak melalui rangsangan terhadap enzim lipoprotein lipase didalam jaringan adiposa. Leptin juga bekerja pada target penting lainnya yaitu meningkatkan ekspresi gen corticotropin-releasing factor (CRF) didalam hipothalamus sehingga mengurangi asupan makan. Kerja melanocyte-stimulating hormone (MSH) juga diperlukan untuk memberikan respons terhadap leptin. Orexin dan mediator lain yang diproduksi hipothalamus bekerja dalam mekanisme umpan balik sentral yang mengatur perilaku makan.
Keseimbangan asupan makan dan pengeluaran energi akan menentukan berat badan seseorang. Asupan makan diatur melalui sedikitnya 4 faktor yaitu : alat2 penciuman dan pengecap, distensi lambung, pelepasan hormon2 saluran cerna seperti insulin, cholecystokinin dan gastrin-releasing peptide, serta aktivasi komponen2 thermogenik dari sistem syaraf simfatis. Hormon2 yang sangat penting berhubungan dengan obesitas adalah insulin dan cholecystokinin. Kadar insulin serum proporsional dengan massa jaringan adiposa. Hormon ini merangsang pelepasan leptin dari sel-sel lemak dan bekerja secara sentral menurunkan asupan makanan dengan cara mempengaruhi kerja cholecystokinin dan Neuropeptida Y. Namun kerja utama insulin adalah meningkatkan asupan makan dengan cara menurunkan kadar glukosa darah. Cholecystokinin adalah suatu peptida yang disekresi oleh duodenum dengan adanya makanan. Hormon ini bekerja pada reseptor CCK-A didalam saluran cerna untuk menurunkan asupan makan. Cholecystokinin didalam sirkulasi tidak dapat menembus sawar otak, namun peptida yang sama disintesis didalam otak, bekerja pada reseptor CCK-B dan berfungsi sebagai faktor rasa kenyang (satiety factor). Hormon yang merangsang nafsu makan dikenal dengan nama ghrelin, yang merupakan suatu ligand bagi reseptor GH secretagogue dan disintesis didalam gaster. Disamping itu telah pula ditemukan peptida lain yang bekerja berlawanan dengan ghrelin yang disebut obestatin. Ghrelin dan obestatin disintesis dari protein prekursor yang sama, namun memiliki sifat-sifat biologik yang berlawanan. Dalam penelitian pada hewan coba didapatkan bahwa ghrelin merangsang nafsu makan sedangkan injeksi obestatin menghambat nafsu makan.
Ghrelin meningkatkan pengosongan lambung sedangkan obestatin memperlambat pengosongan lambung. Ghrelin mengatur aksis hormon hipofisis, metabolisme karbohidrat dan berbagai fungsi yang berbeda dari ginjal, jantung, jaringan adiposa, pankreas dan gonad.
Pemberian ghrelin jangka panjang meningkatkan asupan makan disamping menurunkan pengeluaran energi, dengan akibat meningkatkan berat badan dan risiko terjadinya obesitas. Sebaliknya obestatin bekerja sebagai hormon anoreksigenik sehingga dapat mencegah penambahan berat badan.

Pengeluaran energi ditentukan oleh aktivitas fisik, laju metabolisme dan thermogenesis. Faktor-faktor metabolisme yang menentukan pengeluaran energi meliputi kerja kardio-respirasi, keseimbangan gradien ion dan berbagai aktifitas enzimatik didalam tubuh. Sistem syaraf simfatis tidak hanya mempengaruhi otot rangka dan sistem kardiovaskular tetapi juga mempengaruhi thermogenesis. Jaringan lemak coklat mempunyai peranan dalam thermogenesis adaptif, dimana kapasitas thermogeniknya mungkin terjadi melalui ekspresi dari uncoupled protein-1 (UCP-1) yang melakukan fosforilasi oksidatif dari transpor elektron melalui rantai respirasi mitokondria. Sel-sel lemak coklat kaya akan mitokondria dan menghasilkan lebih banyak panas serta lebih sedikit mengandung ATP dibandingkan sel-sel lemak putih. Uncoupled Protein-2 terbentuk baik didalam lemak coklat maupun lemak putih dan mengalami upregulasi bila tikus banyak makan makanan yang tinggi kandungan lemak. Pada manusia, sel-sel lemak mengekspresi produk gen yang sama dengan gen UCP-2 pada tikus.

Gambar 2. Hormon2 yang mengendalikan perilaku makan

Komplikasi Obesitas
Obesitas dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang akan menurunkan kualitas hidup, meningkatkan morbiditas dan kematian prematur, antara lain :
1. Sindrom Dismetabolik
Dikenal juga dengan sindrom metabolik atau sindrom resistensi insulin atau sindrom X yang merupakan kumpulan faktor-faktor risiko metabolik untuk terjadinya Penyakit Jantung Koroner.
Gambaran sindrom ini meliputi :
resistensi insulin disertai hiperinsulinemi
gangguan toleransi glukosa
diabetes melitus tipe 2
dislipidemi yang ditandai dengan hipertrigliseridemi dan kadar HDL kholesterol yang rendah
hipertensi

Faktor risiko metabolik lain berupa peningkatan kadar apolipoprotein B, partikel2 small dense LDL, dan PAI1 disertai dengan gangguan fibrinolisis dapat terjadi pada obesitas abdominal.
Sindrom dismetabolik biasanya terjadi pada individu dengan obesitas yang nyata, namun beberapa penelitian juga mendapatkan bahwa sindrom ini dapat terjadi pada individu dengan BB yang normal namun memiliki jumlah lemak abdominal yang berlebihan. Patogenesis yang mendasari sindrom dismetabolik sampai saat ini belum jelas, namun terdapat hipotesis yang kuat bahwa resistensi insulin merupakan dasar patogenik yang umum.
2. Diabetes Melitus tipe 2
Peningkatan yang tajam dari prevalensi obesitas memainkan peran penting dalam terjadinya peningkatan prevalensi diabetes selama 20 tahun terakhir di Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari NHANES III, dua pertiga dari laki-laki dan wanita di Amerika Serikat yang didiagnosis DM tipe 2 mempunyai IMT ( 27 kg/m2.
Risiko terjadinya diabetes meningkat secara linear dengan IMT, sebagai contoh, prevalensi diabetes dalam penelitian NHANES III meningkat dari 2 % pada kelompok individu dengan IMT antara 25 sampai 29,9 kg/m2 menjadi 8% pada IMT antara 30 – 34,9 kg/m2 dan 13% pada IMT yang lebih dari 35 kg/m2.
Dalam the Nurses Health Study, risiko diabetes mulai meningkat bila IMT melampaui nilai normal 22 kg/m2. Risiko diabetes juga meningkat dengan meningkatnya berat badan selama masa remaja. Diantara laki-laki dan wanita umur 35 sampai 60 tahun, risiko diabetes 3 kali lebih besar pada kelompok yang mengalami penambahan berat badan seberat 5 sampai 10 kg sejak mereka berusia 18 sampai 20 tahun, dibandingkan dengan mereka yang hanya mengalami penambahan berat badan tidak lebih dari 2 kg.
3. Dislipidemi
Obesitas disertai dengan abnormalitas lipid didalam serum, berupa hipertrigliseridemi, kadar HDL yang menurun dan peningkatan fraksi small dense LDL. Abnormalitas lipid ini terutama jelas terlihat pada individu dengan obesitas abdominal. Disamping itu banyak studi yang membuktikan bahwa kadar kolesterol total dan kolesterol LDL mengalami peningkatan pada obesitas. Data dari NHANES III menunjukkan bahwa pada laki-laki terjadi peningkatan progresif dari prevalensi hiperkolesterolemi (total kolesterol ≥ 240 mg/ dl atau 6.21 mmol/L) dengan meningkatnya IMT. Sebaliknya pada wanita, prevalensi hiperkolesterolemi tertinggi pada IMT 25 – 27 kg/m2, dan tidak meningkat lebih lanjut pada IMT yang lebih tinggi. Abnormalitas lipid yang menyertai obesitas merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya Penyakit Jantung Koroner.

4. Hipertensi
Terdapat hubungan linear antara hipertensi dan Indeks Massa Tubuh. Dalam studi NHANES III, prevalensi hipertensi pada laki-laki dan wanita obes sebesar 42% dan 38%.
Angka ini 2 kali lebih tinggi dibandingkan pada laki2 dan wanita dengan BB normal (diperkirakan 15%). Risiko hipertensi juga meningkat dengan penambahan BB. Diantara subjek pada Studi Framingham, terjadi peningkatan tekanan darah sebesar 6,5 mmHg pada setiap 10% peningkatan berat badan.
5. Penyakit Jantung Koroner
Risiko penyakit jantung koroner pada individu obes meningkat terutama pada individu dengan distribusi lemak abdominal yang dominan dan yang memiliki berat badan berlebih mulai usia dewasa muda. Dalam the Nurses Health Study, risiko infark miokard fatal dan non fatal lebih besar pada wanita yang mempunyai IMT yang terendah tapi dengan rasio lingkar perut-paha yang paling tinggi dibandingkan dengan wanita dengan IMT tertinggi namun dengan rasio lingkar perut-paha terendah.
6. Penyakit Tromboemboli dan Serebrovaskular
Risiko terjadinya stroke iskemik fatal dan non fatal 2 kali lebih tinggi pada individu obes dibandingkan individu kurus dan akan meningkat secara progresif dengan pertambahan IMT. Risiko terjadinya stasis vena, trombosis vena dalam dan emboli paru juga meningkat pada obesitas, terutama pada individu dengan obesitas abdominal. Penyakit trombosis vena ekstremitas bawah dapat terjadi akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, gangguan fibrinolisis dan peningkatan mediator2 inflamasi.
7. Batu empedu
Obesitas disertai dengan meningkatnya produksi kolesterol didalam empedu, disertai supersaturasi cairan empedu dan tingginya insiden batu empedu, terutama batu empedu yang mengandung kolesterol. Individu yang mempunyai kelebihan berat badan 50% diatas berat badan ideal mempunyai risiko untuk mengalami batu empedu sebesar 6 kali dibandingkan individu dengan berat badan normal.
8. Kanker
Obesitas pada laki-laki disertai dengan angka kematian yang tinggi akibat kanker, termasuk kanker esofagus, kolon, rektum, pankreas, hati dan prostat; sedangkan obesitas pada wanita disertai dengan angka kematian yang tinggi akibat kanker kantong empedu, saluran empedu, payudara, endometrium, cervix uteri dan ovarium. Data terbaru menunjukkan bahwa angka kematian akibat kanker pada obesitas di Amerika sebesar 14% pada laki-laki dan 20% pada wanita.

9. Penyakit tulang, sendi dan kulit
Obesitas disertai dengan peningkatan risiko osteoartritis, yang terjadi akibat beban berat badan yang disanggah oleh persendian. Diantara kelainan kulit yang menyertai obesitas adalah acanthosis nigricans, yang ditandai dengan penebalan kulit yang kehitaman dari lipatan kulit didaerah leher, siku dan ruang interfalang dorsal. Acanthosis nigricans menunjukkan beratnya resistensi insulin dan akan berkurang dengan penurunan berat badan. Disamping itu stasis vena meningkat pada individu obes.
Diagnosis Obesitas
Cara paling umum digunakan untuk menjaring obesitas adalah dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang merupakan hasil perhitungan BB dalam kg dibagi TB2 dalam m2 .
The US Preventive Services Task Force (USPSTF) berdasarkan hasil telaah kepustakaan menunjukkan bahwa pengukuran IMT mudah dilakukan dan memiliki korelasi yang kuat dengan kandungan lemak tubuh baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa IMT tidak dapat menunjukkan derajat kegemukan yang sama pada populasi yang berbeda. Pada tahun 2000, WHO mengajukan klasifikasi BB berlebih dan obesitas pada orang dewasa untuk populasi orang Barat, sebagai berikut :

Tabel 1. Klasifikasi berat badan menurut WHO untuk populasi orang barat.

Sedangkan untuk populasi penduduk Asia, WHO Asia Pasifik telah mengemukakan kriteria berat badan yang dihubungkan pula dengan risiko komorbiditas berdasarkan lingkar pinggang (WHO IOTF 2003) :

Tabel 2. Klasifikasi berat badan dihubungkan dengan risiko ko-morbiditas
berdasarkan lingkar pinggang untuk populasi penduduk Asia.

Pengukuran antropometrik yang lain sering dipergunakan bersamaan dengan pengukuran IMT dan dihubungkan dengan penilaian risiko kardiovaskular, yaitu pengukuran lingkar pinggang (waist circumference) dan ratio lingkar pinggang dan pinggul (waist hip ratio).
Obesitas sentral dinilai melalui pengukuran lingkar pinggang dan ratio lingkar pinggang dan pinggul diikuti pengukuran manifestasi sindrom metabolik lain seperti tekanan darah, kadar glukosa darah, profil lipid, kadar insulin dan albuminuria. Terdapat korelasi yang sangat baik antara IMT dan prosentase lemak tubuh, dimana prosentase lemak tubuh dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus :
1,2 x IMT + 0,23 x umur – 10,8 (jenis kelamin) – 5,4.
Jenis kelamin = 1 untuk laki-laki dan 0 untuk wanita.

Dari rumus diatas, prosentase lemak tubuh wanita diperkirakan 10% lebih tinggi dibandingkan pria yang mempunyai berat badan dan tinggi badan yang sama. Pada wanita kelebihan lemak tubuh biasanya tersebar sebagai lemak subkutan di daerah paha, bokong dan payudara, sementara pada laki-laki kelebihan lemak tubuh terutama tersimpan didalam rongga abdomen sebagai lemak subkutan abdominal.

Simpulan
Obesitas merupakan kelainan metabolisme yang kompleks dan bersifat multifaktorial, memberikan dampak negatif bagi kesehatan karena berbagai komplikasi yang diakibatkannya. Penelitian dalam fisiologi dan patofisiologi obesitas diharapkan dapat membuka peluang pengembangan strategi pencegahan dan penatalaksanaan terhadap obesitas.

DAFTAR PUSTAKA
Nammi S, Koka S , Chinnala KM, Boini KM. Obesity: An overview on its current perspectives and treatment options. Nutrition Journal 2004;3:1-8.

Redinger RN. The Pathophysiology of Obesity and Its Clinical Manifestations. Gastroenterology & Hepatology 2007;3(11):856-863.

Panigrahi TG, et.al. Obesity : Pathophysiology and Clinical Management. Curr Med Chemist 2009;16:506-521.

Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, Kronenberg HM (editors). Williams Textbook of Endocrinology, 12 th ed. Philadelphia: Elsevier 2011; pp 1605-1632.